FILOSOFI PENDIDIKAN PAUD
1. ESENSIALISME
Menurut sejarah, esensialis dan progresifis berhasil mengendalikan kesetiaan masyarakat umum Amerika dari tahun 1635, yang di awali dengan berdirinya sekolah Latin Boston sampai tahun 1896, atas prakarsa asisten John Dewey di Universitas Chicago. Menurut esensialis, pendidikan bertujuan untuk mneyebarkan budaya. Apabila rekonstruksionis hendak mengubah masyarakat secara aktif, sebaliknya esensialis menghindari hal tersebut.
Bahan pokok kurikulum adalah sebuah rencana esensialis tentang organisasi kurikulum dan teknik-teknik pemberian pelajaran, dengan tes sebagai metodenya. Karya Ilmiah, yakni kemampuan mendaur ulang apa yang telah dipelajari, merupakan nilai yang tinggi, dan pendidikan di awasi sebagai persiapan mencapai maksud pendidikan, seperti perguruan tinggi, lapangan kerja dan kehidupan.
Dalam falsafah ini terdapat prinsip behavioristik, yaitu esensialis menemukan dasar-dasar tingkah laku yang selaras dengan keyakinan filosofis. kemampuan dasar menjadi prioritas bagi esensialis. begitu pula halnya dengan berbagai program pendidikan dan latihan, yang menjadi titik orintasi esensialis.
2. PROGRESIVISME
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, progresivisme yang dikenal juga dengan nama pragmatisme, berkembang melalui struktur pendidikan d Amerika sebagai jawaban atau doktrin esensialisme. dengan tokoh-tokohnya seperti John Dewey, William H. Kilpatrick, John Childs, dan Boyd Bode, progresivisme berupaya menyajikan bahan dasar bagi para pelajar. Berkaitan dengan hal ini, penganut progresivisme membuka sekolah untuk anak-anak sebagai sekolah penelitian di Universitas Chicago. John Dewey pun kemudian mengumpulkan bahan-bahan pemikiran progresivisme dalam sebuah seri penerbitan, antara lain "Democracy and Education", "Experience and Education", "How We Think", dan "Pedagogic Creed".
Sikap progresivisme yang menyatakan bahwa anak harus memahami pengalaman pendidikan "di sini" dan "sekarang", mempunyai filosofi "pendidikan adalah hidup" dan "belajar dengan melakukan". Para progresivis mendorong sekolah agar menyediakan pelajaran bagi setiap individu yang berbeda, baik dalam mental fisik, emosi, spiritual, dan perbedaan sosial.
3. NATIVISME
Nativisme merupakan kata dasar dari bahasa latin, "natus" artinya lahir atau "nativus" artinya kelahiran (pembawaan). Nativisme merupakan sebuah doktrin yang berpengaruh besar terhadap teori pemikiran paikologis. Nativisme ini dipelopori oleh Arthur Schopenhauer tahun 1788-1860 (Dimyati, 2002: 34), seorang filosof jerman ini mengemukakan bahwa perkembangan manusia itu telah di tentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir (faktor pembawaan) baik karena berasal dari keturunan orang tuanya, nenek moyangnya maupun karena ditakdirkan demikian. pembawaan itulah yang menentukan hasi perkembangannya. manakala pembawaannya itu baik, baik pula anak itu kelak begitu juga sebaliknya.
Menurut nativisme, pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. pendidikan dan lingkungan tidak berpengaruh sama sekali dan tidak berkuasa dalam perkembangan seorang anak. dalam ilmu pendidikan nativisme ini dikenal sebagai pandangan pesemisme pedagogis, yang disebut juga dengan Biologisme, karena mementingkan kehidupan individu saja, tanpa memperhatikan pengaruh-pengaruh dari luar. perkembangan individu sangat dipengaruhi oleh:
a. faktor genetik (keturunan)
b. faktor kemampuan (bakat)
c. faktor pertumbuhan
4. EKSISTENSIALISME
Filsafat ini mengutamakan individu sebagai faktor dalam menentukan apa yang baik dan benar. Norma-norma hidup berbeda secara individual dan ditentukan masing-masing secara bebas, namun dengan pertimbangan jangan menyinggung perasaan orang lain. Tujuan hidup adalah menyempurnakan diri, merealisasikan diri.
Sekolah yang berdasarkan eksitensialisme mendidik anak agar ia menentukan pilihan dan keputusan sendiri menolak otoritas orang lain. ia harus bebas berpikir dan mengambil keputusan sendiri secara bertanggung jawab. Sekolah ini menolak segala kurikulum, pedoman, isntruksi, buku wajib, dan lain-lain dari pihak luar. Anak baru mencari identitasnya sendiri, menentukan standarnya sendiri dengan kurikulumnya sendiri. Dengan sendirinya mereka tidak dipersiapkan untuk menempuh ujian nasional.
Jadi, kesimpulannya
Sumbernya:
Prof. Dr. S. Nasution, M.A (2011). Asas-Asas Kurikulum. PT Bumi Aksara: Jakarta
Prof. Dr. H. Oemar Hamalik (2007). Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. PT Remaja Rosdakarya: Bandung
http://digilib.unila.ac.id/369/10/BAB%20II.pdf
Apakah EKSISTENSIALISME mempengaruhi baik dan benar individu
BalasHapusMenurut saya iya, karena eksistensialisme ini merupakan filsafat yg mengutamakan individu dalam menentukan baik dan benar. Di aliran ini individu bebas menentukan norma-norma hidup namun dengan pertimbangan jangan menyinggung perasaan orang lain.
HapusMenurut otri bagaimana cara menerapkan aliran nativisme pada aud coba jelaskan!
BalasHapus